Rabu, 13 Juni 2012

Kehangatan Rumah Jangan Melenakanmu dari Perjuangan


Mengurus keluarga itu sangat penting. Membahagiakan keluarga, adalah bagian dari kewajiban. Namun tidak boleh terlena oleh kehangatan keluarga, yang menyebabkan kita melalaikan kewajiban dakwah dan tidak menunaikan amanah. Semua amanah harus ditunaikan dengan sepenuh tanggung jawab.
Pada saat Perang Tabuk, Rasulullah saw keluar bersama sekitar 30.000 pasukan. Di antara sahabat Nabi, ada beberapa orang yang tidak ikut berangkat ke Tabuk, yaitu Ka’ab bin Malik, Murarah bin ar-Rabi’ dan Hilal bin Umayyah. Mereka ini --seperti dikatakan oleh Ibnu Ishaq dalam kitab Sirahnya— adalah orang–orang jujur yang tidak diragukan lagi kebaikan mereka.
Ternyata ada pula seorang sahabat yang sempat tertinggal, bernama Abu Khaitsamah. Namun akhirnya iapun menyusul Rasulullah saw di Tabuk.
Jamuan istimewa dari Para Isteri Tercinta
Thabrani, Ibnu Ishaq dan al-Wakidi meriwayatkan bahwa setelah Rasulullah saw berjalan beberapa hari menuju Tabuk, Abu Khaitsamah kembali kepada keluarganya di hari yang sangat panas sekali. Ia disambut oleh kedua istrinya di dua kemah yang terletak di tengah kebun. Masing–masing telah menyiapkan kemahnya dengan nyaman, lengkap dengan air sejuk dan makanan beraneka macam. Ketika masuk di pintu kemah dia melihat kedua istrinya dan apa yang telah mereka persiapkan.
Tertegun Abu Khaitsamah menyaksikan itu semua.  Jamuan yang sangat istimewa, dari isteri-isteri tercinta. Udara yang panas, rasa lelah yang mendera, dijamu dengan minuman dingin, serta makanan yang lezat, ditemani dua isteri di dua kemah yang berbeda. Hatinya justru gundah, maka segera ia berkata :
”Rasulullah saw berjemur di terik matahari dan diterpa angin panas sedangkan Abu Khaitsamah bersantai di kemah yang sejuk, menikmati makanan yang tersedia dan bersenang ria dengan isteri-isteri cantik? Demi Allah, ini tidak adil !”
Dengan tegas Abu Khaitsamah berkata, ”Demi Allah, aku tidak akan masuk kemah salah seorang diantara kalian hingga aku menyusul Rasulullah saw!”
Melihat sikap suami yang tegas itu, segera kedua istrinya mempersiapkan perbekalan untuk berangkat. Setelah perbekalan siap, ia bergegas berangkat menuju Tabuk. Hatinya merasa tidak nyaman, ia harus segera bertemu Rasulullah saw dan para sahabat yang tengah berjuang di Tabuk.
Tetaplah Berangkat, Walau Terlambat
Di Tabuk, para sahabat melihat dari kejauhan ada seseorang yang mengendarai kuda mendekati mereka. Para sahabat berkata, ”Ada seorang pengendara yang datang.” Rasulullah saw bersabda, ”Ia adalah Abu Khaitsamah!”
Setelah semakin dekat, para sahabat berkata, ”Wahai Rasulullah, ia memang Abu Khaitsamah.”
Turun dari kudanya, Abu Khaitsamah bergegas menghadap Rasulullah saw. Sabda beliau saw kepadanya, ”Engkau mendapatkan keutamaan wahai Abu Khaitsamah!”
Abu Khaitsamah kemudian menceritakan kisahnya, dan Rasulullah saw berdoa untuk kebaikannya.
Tetaplah berangkat menunaikan amanah, tetaplah berangkat melaksanakan kewajiban, betapapun kelelahan mendera tubuhmu. Betapapun keluarga yang sangat engkau cintai membuat hatimu tertambat dan ingin tidak berangkat. Singkirkan kemanjaan, buang kemalasan, ambil ketegasan sikap, dakwah harus dimenangkan.
Kehangatan keluarga jangan sampai membuatmu malas menunaikan amanah dakwah. Kenyamanan bersama isteri, suami dan anak-anak, jangan sampai membuat engkau tidak berangkat melaksanakan panggilan perjuangan. Ayo bergerak, walau engkau sudah terlambat. Ayo tetap berangkat, walau saudara-saudaramu para aktivis telah terlebih dulu berada di medan perjuangan dakwah.
Mungkin engkau terlambat, mungkin engkau sempat terlena, mungkin engkau sempat khilaf, mungkin engkau sempat manja, mungkin engkau sempat malas, mungkin engkau sempat merasa berat. Isteri cantikmu, anak-anak kecilmu, rumah bagusmu, mobil indahmu, semua menunggu ingin bersama denganmu.
Namun lihat di sana, para aktivis tengah sibuk memasang bendera. Para aktivis tengah lelah melaksanakan jutaan agenda. Para aktivis tengah berjaga-jaga agar tidak dicurangi oleh para durjana. Pagi, siang, sore dan malam, aktivitas mereka tiada henti. Memenangkan dakwah di medan-medan perjuangan yang sulit dan memerlukan banyak tenaga serta sarana. Segera datang, segera bergabung bersama mereka.
Segera, sekarang juga.


Pak Cah
Read more »

Harlah ke 89 Nahdlatul Ulama, semoga ASWAJA selalu.

Rombongan PKS Kota Kediri, bersama Pak Salis (ketua Umum), sekretaris Umum, bendahara dan Aleg, kemarin malam, hari Selasa 12 Juni 2012 memberi kejutan kepada pengurus PCNU Kota Kediri dengan mengucapkan selamat Harlah NU ke 89.
Disambut KH. Subakir (ketua PCNU) dan seluruh jajaran pengurusnya, rombongan PKS dijamu dengan ngobrol ramah tamah kekeluargaan yang gayeng dan akrab. Suasana semakin akrab karena memang NU dan PKS Kota Kediri punya cita cita bersama untuk mewujudkan keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat juga menciptakan iklim pendidikan remaja yang lebih berakhlaq. 

Salah satunya adalah, ide untuk membuat payung hukum berupa Perda tentang pendidikan muatanlokal atau apalah namanya dengan tujuan, agar seluruh anak didik di kota kediri lebih berakhlaq dengan salah satu parameternya adalah semua Lulusan SMA atau SMP harus punya standart Lulus membaca Al quran lancar. mengapa demikian...K.Musta`in, salah satu pengurus di PCNU dan juga beliau pernah menjabat sebagai ketua dewan pendidikan kota kediri menyatakan, bahwa pendidikan nasional punya tujuan utama membentuk keimanan, ketaqwaan...jadi wajar jika pemkot lebih serius untuk memperhatikan ini. Apalagi dibeberapa daerah seperti Pamekasan sudah memberlakukan hal demikian.

Jam 10malam tepat, rombongan PKS pamit...semoga silaturahim ini terjalin semakin akrab.

Amiin.
Read more »

Selasa, 21 Februari 2012

Selamat Rakernas PPP di Kota Kediri

Read more »

Anis Matta: Semakin Banyak Capres, Pemilu 2014 Semakin Bermutu


Jakarta Sekjen PKS Anis Matta berharap muncul banyak kandidat capres dalam pemilu 2014. Dengan muncul banyak capres, maka suksesi kepemimpinan nasional ke depan akan semakin bermutu.

"Semakin banyak capres semakin bagus, pemilu semakin bermutu. Saya juga sampaikan kepada Presiden SBY kemarin supaya calon pemimpin nasional lebih banyak supaya pemilu semakin bermutu," kata Anis kepada detikcom, Selasa (21/2/2012).

PKS pun akan mendorong Parliamentary Threshold disetarakan dengan Presidential Threshold. Artinya, setiap partai yang lolos ke DPR RI akan berhak mengusung kandidat capres dalam pemilu 2014.

"Jadi semua yang masuk DPR bisa usung capres, nanti semakin ramai, jadi koalisinya juga semakin tersebar. Nanti kalau PT disepakati 3-4 persen ya itu sebaiknya sekaligus Presidential Thresholdnya," papar Anis.

Anis kemudian berharap pemerintah segera menyelesaikan pendataan Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pemilu 2014. Dengan pendataan yang lebih cepat, menurut Anis, pemilu 2014 akan lebih presisi soal DPR.

"Toh nanti kalau ada yang meninggal atau ada tambahan DPT ada mekanisme untuk memasukkan data baru,"tandasnya.

Pertemuan Presiden SBY dengan lembaga tinggi negara kemarin membahas agenda demokrasi Indonesia. Termasuk persiapan menuju pemilu 2014.
Read more »

Senin, 20 Februari 2012

Taushiyah ust. @SalimAFillah : Jangan Tertipu pada Zhahir Kemuliaan


  1. Merujuk ukuran kebaikan pada arahan Allah & jalan hidup RasulNya adalah keinsyafan mulia yang kadang menyesakkan dada.

  2. Seperti yang dilakukan 'Umar ibn Al Khaththab ketika bergunung-gunung harta Kemaharajaan Persia kilau-kemilau memenuhi Madinah.

  3. Semua mengucap selamat & doa-doa indah atas keberhasilannya menggelorakan jihad, meninggikan kalimat Allah, memakmurkan muslimin.

  4. Tapi di pojok sana, sang Khalifah menangis tersedu-sedu. Di hamparan intan, emas, & segala benda mewah, airmatanya tumpah.

  5. "Mengapa kau menangis hai Amirul Mukminin?", tanya seorang sahabat, "Bukankah Allah telah bukakan keberkahan langit & bumi..

  6. ..bagi ummat ini melalui tanganmu?" Maka 'Umar mendongak dengan mata memerah & pipi basah, "Dusta! Demi Allah ini dusta!"

  7. "Demi Allah bukan begitu! Sebab andai semua ini kebaikan", ujarnya menunjuk tumpukan berlian & mas-kencana, "Mengapa ia..

  8. . .tak terjadi di zaman Abu Bakr; juga tidak di zaman Rasulullah? Maka demi Allah, ini semua pasti bukan puncak kebaikan!"

  9. Sungguh pandangan jernih; harta berlimpah itu bukan kebaikan; SEBAB jika ia KEBAIKAN; harusnya terjadi pada ORANG TERBAIK.

  10. Sedang sabda Nabi adalah benar; "Sebaik-baik kurun adalah masaku, kemudian yang berikutnya, kemudian yang mengikutinya."

  11. Maka adakah hari ini kita menimbang kebaikan yang melimpahi dengan ukuran orang-orang terbaik; soal rizqi, ibadah, dakwah?

  12. Indah direnungkan sejenak; keluarga, pekerjaan, jabatan, kekayaan, kemasyhuran kita; apakah ia baik di sisi para teladan?

  13. Sungguh kurun terbaik bakda Nabi; senada 'Umar; panglima penakluk Persia yang melimpahi Madinah dengan harta berpendapat sama.

  14. Sa'd ibn Abi Waqqash namanya; sang singa yang menyembunyikan kukunya; menitik air matanya ketika memasuki Balairung Kisra.

  15. Melihat megah pilar, anggun mahligai, gemerlap singgasana, & mahkota berjejal permata; Sa'd lirih melantun {QS 44: 25-29}.

  16. ..Betapa banyak taman-taman & mata air yang mereka tinggalkan.. Juga kebun-kebun bertanaman & tempat indah nan mulia.. (25-26)

  17. ..Dan kesenangan yang mereka berlezat menikmatinya.. Demikianlah, & Kami wariskan semua itu pada kaum yang lain.. (27-28)

  18. . .Maka langit & bumi tak menangisi mereka; dan tiadalah mereka diberi tangguh.. (29). Deras airmata Sa'd mentilawah Surat Ad Dukhan.

  19. Begitulah; kebaikan harus kita tanyakan pada para insan terbaik; seperti Abu Bakr yang menangis kala sahabat lain gembira.

  20. Surat An Nashr; dibaca oleh umumnya sahabat sebagai tibanya kemenangan, jayanya agama Allah, gempitanya insan berislam.

  21. Tapi bagi Abu Bakr ia duka mendalam; selesainya tugas Rasul, wafatnya beliau, terputusnya wahyu, & dimulainya kemunduran.

  22. Maka selalu ada pesan tersembunyi yang mengoyak batin di tiap hal yang pada zhahirnya dipandang manusia sebagai kejayaan.

  23. Bahkan bagi sang Nabi; seperti terpampang dalam ayat yang baru kita sebut; "Jika datang pertolongan Allah & kemenangan..

  24. ..dan kamu lihat manusia berbondong-bondong memasuki agama Allah.."; betapa manisnya, betapa indahnya, betapa mulianya..

  25. Telah tiba waktu memetik buah dari perjuangan yang getir & pilu; dari dakwah beliau yang berkuah keringat, darah, air mata..

  26. Tapi kalimat berikutnya menyentak kesadaran; halus & tajam; "Maka bertasbihlah memuji Rabbmu & mohonlah ampun kepadaNya.."

  27. Maka pesan rangkaian rericau ini sederhana; mari tak tertipu pada zhahir kemuliaan; dengan selalu bertasbih & beristighfar.
Read more »

Menimbang Keinginan


Apakah yang pasti dari hidup? Di bangku pertama kuliah, saya kerap tersenyum melihat antusias Muslimah terhadap topik menikah. Sebagian di antara mereka bahkan bersegera membangun kesiapan dengan mengikuti kursus tarbiyatul aulad, masak, menjahit, termasuk pilihan bacaan. Pendek kata, menikah masuk dalam peringkat teratas mimpi selain cita-cita menyelesaikan studi.

Bukan sesuatu yang salah untuk membuat list mimpi, cita-cita, dan bersemangat mengejarnya. Hanya, ada hal lain yang mengusik batin. Membangunkan semacam teguran bagi saya yang kala itu juga menuliskan deret cita-cita untuk digapai. Apakah menikah merupakan kepastian? Apakah lulus dari studi adalah jaminan hidup?
Pekerjaan yang kita idamkan, deretan proyek yang kita persiapkan, dan atau segudang rencana pascapensiun yang kita buat, akankah terealisasi? Antara kita dan citacita tak hanya dibatasi sebuah garis bernama kemauan--yang diwujudkan secara nyata dalam bentuk tindakan--tetapi juga usia.

Bagaimana mungkin seseorang membuat begitu banyak persiapan akan berbagai hal yang belum tentu pasti, namun lalai membangun kesiapan terhadap satu kepastian dalam hidup: kematian. Bagaimana mungkin kita menyiapkan setumpuk angan-angan dan dengan santainya menunda satu kebaikan.

Berjilbab setelah menikah atau bekerja atau memberi uang kepada orang tua kalau sudah memiliki pekerjaan, berhenti merokok jika sudah mempunyai anak, berkomitmen pergi haji bila mendapatkan proyek besar dengan keuntungan berlipat--sekalipun sudah mampu untuk menabung--padahal sama sekali tak ada kepastian masih hidup.

Kesadaran ini membuat saya bawel mengingatkan sahabat-sahabat muda saya yang begitu gigih mengejar impian, tetapi tak menyempatkan diri memungut remah kebajikan yang ada di sekitar mereka.

Tidak ada yang tahu kapan persisnya seseorang akan mati. Ia merupakan sebuah kepastian yang di sisi lain justru sulit dipastikan. Bagaimana kita akan mati? Sedang apa kita? Di mana kita akan mati? Siapakah orang terakhir yang menemani saat kematian menyapa? Tidak ada yang mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Tetapi, apa pun jawabannya, tidak seberapa penting jika kita terbiasa mengisi kehidupan dengan kebaikan. Hingga saat kematian tiba, kita memiliki harapan berada dalam rida-Nya. Saat ini, publik masih tersentak oleh kepergian seorang diva dunia. Spekulasi penyebab kematian masih terus merebak. Tetapi, peluang seseorang untuk meninggal disebabkan obat-obatan akan lebih besar bagi mereka yang memang mengonsumsinya ketimbang yang tidak.

Seorang pezina memiliki kemungkinan meninggal saat berselingkuh ketimbang mereka yang menjaga diri. Guntingan beberapa berita di surat kabar tentang ini bukan tidak pernah kita baca. Mau tidak mau terpikir bagaimana perasaan anak yang bersangkutan mengetahui ayah atau ibu mereka meninggal dalam keadaan tanpa busana di kamar hotel dan ditemani sosok lain yang tak terikat tali pernikahan.

Seorang yang korup, sekalipun sejauh ini aman, memiliki peluang diperkarakan dan cacat nama baik di ujung hidupnya. Rasulullah SAW bersabda, “Secerdas-cerdasnya manusia adalah yang terbanyak mengingat kematian serta yang terbanyak persiapan menghadapinya,“ (Riwayat Ibnu Majah). Jadi, hidupkan hati dengan mengingat mati.

oleh ASMA NADIA
Read more »

Doa Robithoh : doa di sepanjang Mihwar Perjuangan


Siang tadi (Sabtu 3 Desember 2011), saya mengikuti acara Tatsqif Kader Dakwah di Markaz Dakwah Gambiran, Yogyakarta. Ustadz Tulus Musthafa menyampaikan tausiyah yang sangat mengena. Penjagaan terhadap kader pada era dakwah di ranah publik harus semakin dikuatkan. Sarananya, kata beliau, telah terangkum dalam Doa Rabithah yang rutin kita baca setiap pagi dan petang.

Sembari mengikuti tausiyah beliau, ingatan saya menerawang jauh ke belakang…..

Suatu masa, di era 1980-an…..

Tigapuluh tahun yang lalu, beberapa orang aktivis dakwah, tidak banyak, hanya beberapa orang saja, duduk melingkar dalam sebuah majelis. Di ruangan yang sempit, diterangi lampu temaram, duduk bersila di atas tikar tua, khusyu’, khidmat, tawadhu’.

Tidak banyak, hanya beberapa orang saja. Berbincang membelah kesunyian, pelan-pelan, tidak berisik. Semua datang dengan berjalan kaki, naik sepeda tua, atau naik kendaraan umum saja. Pakaian mereka sangat sederhana, apa adanya, bersahaja. Hati mereka sangat mulia.

Tigapuluh tahun yang lalu, beberapa orang itu bercita-cita tentang kejayaan sebuah peradaban. Cita-cita besar, mengubah keadaan, menciptakan peradaban mulia. Wajah mereka tampak teduh, air wudhu telah membersihkan jiwa dan dada mereka. Tidak ada yang berbicara tentang fasilitas, materi, jabatan dan kekuasaan.

Mengakhiri majelis, mereka menundukkan wajah. Tunduk dalam kekhusyukan, larut dalam kehangatan persaudaraan, hanyut dalam samudera kecintaah. Doa Rabithah mereka lantunkan. Syahdu, menusuk kalbu.

Air mata berlinang, bercucuran. Akankah segelintir orang ini akan bisa mengubah keadaan ? Akan beberapa orang ini akan mampu menciptakan perubahan ? Hanya Allah yang mengetahui jawaban semua pertanyaan. Doa telah dimunajatkan, dari hati yang paling dalam :

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu, telah berjumpa dalam ketaatan kepada-Mu, telah bersatu dalam dakwah kepada-Mu, telah berpadu dalam membela syari’at-Mu”.

“Maka kokohkanlah ya Allah, ikatannya, kekalkanlah kasih sayangnya, tunjukilah jalan-jalannya, penuhilah hati-hati ini dengan cahaya-Mu yang tiada pernah pudar”.

“Lapangkanlah dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan tawakkal kepada-Mu. Nyalakan hati kami dengan ma’rifat kepada-Mu, matikanlah kami dalam syahid di jalan-Mu”.

“Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Amin”.

Sejuk, menyusup sampai ke tulang, mengalir dalam darah. Meresap hingga ke sumsum dan seluruh sendi-sendi tubuh. Merekapun berdiri, berangkulan, bersalaman dengan erat. Masing-masing meninggalkan ruangan. Satu per satu. Hening, tenang. Tidak ada kegaduhan dan kebisingan.

Masa bergerak, ke era 1990-an

Sekumpulan aktivis dakwah, cukup banyak jumlahnya, berkumpul dalam sebuah ruangan yang cukup luas. Ruang itu milik sebuah Yayasan, yang disewa untuk kantor dan tempat beraktivitas. Mampu menampung hingga seratus orang. Semua duduk lesehan, di atas karpet. Lampu cukup terang untuk memberikan kecerahan ruang.

Sebuah Daurah Tarqiyah dilakukan. Para muwajih silih berganti datang memberikan arahan. Taujih para masyayikh di seputar urgensi bersosialisasi ke tengah kehidupan masyarakat, berinteraksi dengan tokoh-tokoh publik, memperluas jaringan kemasyarakatan dengan pendekatan personal dan kelembagaan. Semua aktivis diarahkan untuk membuka diri dan berkiprah secara luas di tengah masyarakat. Membangun jaringan sosial dan membentuk ketokohan sosial.

Sekumpulan aktivis dakwah, jumlahnya cukup banyak, datang dengan mengendarai sepeda motor, beberapa tampak mengendarai mobil Carry dan Kijang tua. Wajah mereka bersih, bersinar. Penampilan mereka tampak intelek, namun bersahaja. Sebagian berbaju batik, sebagian lainnya berpenampilan rapi dengan setelan kemeja dan celana yang serasi.

Acara berlangsung khidmat dan sederhana. Namun sangat sarat muatan makna. Sebuah keyakinan semakin terhujamkan dalam jiwa, bahwa kemenangan dekat waktunya. Kader dakwah terus bertambah, aktivitas dakwah semakin melimpah ruah. Semua optimis dengan perkembangan dakwah.

Usai acara ditutup dengan doa. Hati mereka khusyu’, jiwa mereka tawadhu’. Sekumpulan aktivis dakwah, cukup banyak jumlah mereka, menengadahkan tangan, sepenuh harapan dan keyakinan. Munajat sepenuh kesadaran :

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu, telah berjumpa dalam ketaatan kepada-Mu, telah bersatu dalam dakwah kepada-Mu, telah berpadu dalam membela syari’at-Mu”.

“Maka kokohkanlah ya Allah, ikatannya, kekalkanlah kasih sayangnya, tunjukilah jalan-jalannya, penuhilah hati-hati ini dengan cahaya-Mu yang tiada pernah pudar”.

“Lapangkanlah dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan tawakkal kepada-Mu. Nyalakan hati kami dengan ma’rifat kepada-Mu, matikanlah kami dalam syahid di jalan-Mu”.

“Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Amin”.

Mereka berdiri, berangkulan, bersalaman dengan erat dan hangat. Hati mereka tulus, bekerja di jalan kebenaran, pasti Allah akan memberikan jalan kemudahan. Doa Rabithah mengikat hati-hati mereka, semakin kuat, semakin erat.

Perlahan mereka meninggalkan ruangan, menuju tempat beraktivitas masing-masing. Khidmat, hening, namun tetap terpancar wajah yang cerah dan harapan yang terang benderang.

Masa terus mengalir, sampai ke era 2000-an….

Para aktivis dakwah berkumpul, jumlah mereka cukup banyak. Memenuhi ruangan ber-AC, sebuah gedung pertemuan yang disewa untuk kegiatan. Diterangi lampu terang benderang, dengan sound system yang memadai, dan tata ruang yang tampak formal namun indah. Tampak bendera berkibar dimana-mana, dan sejumlah spanduk ucapan selamat datang kepada peserta dipasang indah di berbagai ruas jalan hingga memasuki ruangan.

Sebuah kegiatan koordinasi digelar untuk mempersiapkan perhelatan politik tingkat nasional. Para aktivis datang dengan sepeda motor dan mobil-mobil yang tampak memadati tempat parkir. Mereka hadir dengan mengenakan kostum yang seragam, bertuliskan kalimat dan bergambarkan lambang partai. Di depan ruang, tampak beberapa aktivis berseragam khas, menjaga keamanan acara.

Para aktivis dakwah berkumpul, jumlah mereka cukup banyak. Mereka duduk berkursi, tampak rapi. Pakaian mereka formal dan bersih, sebagian tampak mengenakan jas dan dasi, bersepatu hitam mengkilap. Sebagian datang dengan protokoler, karena konsekuensi sebagai pejabat publik. Ada pengawal, ada ajudan, ada sopir, dan mobil dinas.

Para qiyadah hadir memberikan arahan dan taklimat, sesekali waktu disambut gegap gempita pekik takbir membahana. Rencana Strategis (Renstra) dicanangkan, program kerja digariskan, rancangan kegiatan telah diputuskan, para kader siap melaksanakan seluruh keputusan. Acara berlangsung meriah, diselingi hiburan grup nasyid yang tampil dengan penuh semangat.

Acara selesai, diakhiri dengan doa. Seorang petugas maju ke mimbar, memimpin doa, munajat kepada Allah dengan kerendahan hati dan sepenuh keyakinan akan dikabulkan. Doa pun diumandangkan :

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu, telah berjumpa dalam ketaatan kepada-Mu, telah bersatu dalam dakwah kepada-Mu, telah berpadu dalam membela syari’at-Mu”.

“Maka kokohkanlah ya Allah, ikatannya, kekalkanlah kasih sayangnya, tunjukilah jalan-jalannya, penuhilah hati-hati ini dengan cahaya-Mu yang tiada pernah pudar”.

“Lapangkanlah dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan tawakkal kepada-Mu. Nyalakan hati kami dengan ma’rifat kepada-Mu, matikanlah kami dalam syahid di jalan-Mu”.

“Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Amin”.

Acara resmi ditutup. Para aktivis berdiri, berjabat tangan, meninggalkan ruangan dengan khidmat. Terdengar kebisingan suara sepeda motor dan mobil yang mesinnya dihidupkan. Sepeninggal mereka, tampak panitia sibuk membereskan ruangan.

Gambar : Google

Gambar : Google

Masa cepat bergulir, hingga di era 2010-an…..

Para aktivis dakwah berkumpul, jumlah mereka sangat banyak. Harus menyediakan ruangan yang sangat besar untuk menampung jumlah tersebut. Ruang kantor Yayasan sudah tidak bisa menampung, ruang pertemuan yang sepuluh tahun lalu digunakan, sekarang sudah tampak terlampau kecil. Harus menyewa gedung pertemuan yang memiliki hall besar agar menampung antusias para aktivis dari berbagai daerah untuk datang.

Para aktivis dakwah berkumpul, jumlah mereka sangat banyak. Mereka datang naik pesawat, berasal dari Aceh hingga Papua. Berseragam rapi, semua mengenakan atribut dan jas berlambang partai. Peserta yang datang dari wilayah setempat datang dengan mobil atau taksi. Semua tampak rapi dan bersih.

Ruangan yang besar itu penuh diisi para aktivis dakwah yang datang dari seluruh pelosok wilayah. Dakwah telah tersebar hingga ke seluruh penjuru tanah air. Sebagian telah menempati posisi strategis sebagai pejabat pemerintahan, baik di pusat maupun daerah, baik di eksekutif maupun legislatif. Hadir dengan sepenuh keyakinan dan harapan akan adanya perubahan menuju pencerahan.

Berbagai problem dan persoalan diutarakan. Berbagai ketidakpuasan disampaikan. Banyak kritik dilontarkan. Banyak saran dan masukan diungkapkan. Semua berbicara, mengevaluasi diri, mengaca kelemahan dan kekurangan, memetakan arah tujuan, namun tetap dalam bingkai kecintaan dan kasih sayang. Para aktivis sadar bahwa masih sangat banyak kekurangan dan kelemahan yang harus terus menerus diperbaiki dan dikuatkan. Semua bertekad untuk terus berusaha menyempurnakan.

Sang Qiyadah memberikan taujih dengan sepenuh kehadiran jiwa, “Nabi telah berpesan, bahwa sesungguhnya kalian dimenangkan karena orang-orang lemah di antara kalian. Maka tugas kita adalah selalu memberikan perhatian terhadap masyarakat, terlebih lagi kelompok dhuafa. Termasuk dhuafa di antara kader dakwah. Jangan pernah melupakan kerja para kader yang telah berjuang di pelosok-pelosok daerah. Lantaran kerja merekalah kita diberikan kemenangan oleh Allah”.

Lugas, tuntas. Arahan telah sangat jelas. Acara pun berakhir, ditutup dengan doa. Seorang petugas maju ke mimbar, mengajak semua peserta menghadirkan hati dan jiwa, dengan khusyu’ munajat kepadaNya agar senantiasa diberikan pertolongan dan kekuatan. Doapun dilantunkan :

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu, telah berjumpa dalam ketaatan kepada-Mu, telah bersatu dalam dakwah kepada-Mu, telah berpadu dalam membela syari’at-Mu”.

“Maka kokohkanlah ya Allah, ikatannya, kekalkanlah kasih sayangnya, tunjukilah jalan-jalannya, penuhilah hati-hati ini dengan cahaya-Mu yang tiada pernah pudar”.

“Lapangkanlah dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan tawakkal kepada-Mu. Nyalakan hati kami dengan ma’rifat kepada-Mu, matikanlah kami dalam syahid di jalan-Mu”.

“Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Amin”.

Ternyata, doa Rabithah telah menghiasi perjalanan panjang kami. Bergerak melintasi zaman, dengan beragam tantangan, dengan aneka persoalan. Para aktivis selalu setia dengan arah tujuan, bergerak pasti menuju ridha Ilahi. Doa Rabithah tidak pernah lupa dimunajatkan, di waktu pagi dan malam hari.

Kesetiaan telah teruji pada garis waktu yang terus bergerak. Lintasan mihwar membawa para aktivis menuju kesadaran, bahwa kejayaan adalah keniscayaan, selama isi Doa Rabithah diamalkan, bukan sekedar diucapkan…..

Kabulkan permohonan kami, Ya Allah….

diambil dari Taujih Ust. Cah

Read more »

 

KABAR DPC

KIPRAH KEWANITAAN

KOLOM